CILAMAYA WETAN, Spirit – Larangan perponcloan yang cenderung tidak berprikemanusiaan telah dikeluarkan kementerian pendidikan dan kebudayaan. Namun, nyatanya hal itu masih terjadi. Meski tidak menimpa calon siswa, tetapi bagi 58 siswa calon pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di SMK Iptek hal itu dilakukan.
Perlakuan yang cenderung merendahkan martabat manusia oleh kakak kelas atau seniornya tampak dalam proses pengukuhan calon pengurus OSIS. Para siswa disuruh jalan jongkok, dimaki-maki dan dibentak-bentak dengan kepala dilumuri lumpur.
“Kalian semua adalah siswa pilihan. Maka harus kuat dan tidak cengeng. Jalan jongkok ambil tas kalian,dalam hitungan kelima harus selesai,” kata Wafi salah satu panitia Diklat OSIS SMK IPTEK dengan nada tinggi memberi perintah kepada para siswa, Sabtu (3/9).
Saat dikonfirmasi wartawan, Wafi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda pelantikan bagi calon OSIS di sekolahnya. Dari mulai menguji mental dan fisik, juga menguji tentang wawasan keagamaan dan pengetahuan umum serta kejujuran siswa.
“Ada empat pos penguji yang harus dilalui oleh calon OSIS. Dari keempat pos tersebut, materi atau ujian yang diberikan berbeda-beda. Untuk tahun sekarang ujian yang diterima peserta dianggap sedang-sedang saja ketimbang pada masa pelantikan OSIS kami tahun lalu. Lebih tegang dan menantang. Tapi bukan berarti mau balas dendam semata hanya untuk meningkatkan kedisiplinan,” terangnya saat di lokasi kegiatan.
Menurut Wafi, semua kegiatan tersebut sudah dikoordinasikan dengan pihak sekolah khususnya guru pembina OSIS. Sehingga apapun yang dilakukan oleh pihak penyelenggara pelantikan calon pengurus OSIS dianggap sudah sesuai dengan standar operasional yang ada.
“Yang jelas lulusan SMK IPTEK Cilamaya yang bekerja di perusahaan kebanyakan sudah menerima gemblengan seperti ini. Karena manfaatnya bisa lebih disiplin dan bertanggungjawab,” kata siswa kelas 12 tersebut.
Sementara itu Ketua Panitia Kegiatan, Ajis menyampaikan, untuk menjadi pengurus OSIS harus memiliki kedisiplinan maka harus diuji kemampuannya melalui kegiatan ini. Karena tidak semua siswa SMK IPTEK menjadi pengurus.
“Bagi siswa yang mau menjadi pengurus saja. Dulu kamipun oleh kakak kelas juga seperti ini. Artinya mengalami hal yang sama, cuma kalau yang sekarang agak mending bila dibanding pada masa kami. Siswa pilihan ya harus seperti ini,” katanya menambahkan. (wan)
